Tentang SET
- Soil Science Expedition Team
- Pertanian, Ilmu Tanah, Indonesia
- SOIL SCIENCE EXPEDITION TEAM (SET) Soil Science Expedition Team (SET) adalah Unit Pelaksana Teknis Mahasiswa (UPTM) yang bernaung dibawah Gamatala, SET bergerak dibidang lingkungan dan kepecintaan alam. Konsep dasar dari UPTM ini adalah 50% ; 50% yaitu 50% keilmuan dan 50% kelingkungan. SET dipimpin oleh seorang Direktur, dan dibantu oleh seorang sekretaris umum dan seorang bendahara umum. SET berdiri pada tanggal 18 Desember 1998 yang diprakarsai oleh beberapa orang yang minat akan tantangan dan petualangan. Organisasi ini juga tergabung dalam organisasi organisasi yang lingkupnya lebih besar dan respek terhadap lingkungan, seperti Forum Konservasi Unila (FKU), Forum Mahasiswa Peduli Pesisir Laut Lampung (FMPPLL), dan juga Forum Bersama (FORBES). Kegiatan kegiatan SET selain yang bergerak dibidang lingkungan juga bergerak dibidang pengabdian masyarakat, diantaranya memberikan materi tentang teknik konservasi dan penyetekan di desa Talang Mulya Lampung Selatan, dan sekaligus ADesa tersebut dijadikan Desa mitra oleh SET.
Sunday, January 9, 2011
Belajar Kreatif
Saturday, January 8, 2011
Friday, August 22, 2008
Peran KPA
Konservasi Lingkungan
PECINTA ALAM DITUNTUT LEBIH BERPERAN NYATA
Yogyakarta, Kompas - Keterampilan dan pengetahuan para mahasiswa pencinta alam sebaiknya mulai diterapkan untuk merespons isu-isu aktual di bidang lingkungan hidup. Visi konservasi lingkungan dan pengabdian pada masyarakat dituntut untuk lebih ditonjolkan sehingga manfaat kegiatan kepencintaalaman bermanfaat positif bagi masyarakat dan kelestarian lingkungan.
Aktualisasi kegiatan kepencintaalaman itu diangkat dalam Jogja Environment Week (JEW) 2006 yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) Mapalaska Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 1-5 Maret. Pameran lingkungan ini sekaligus memperingati ulang tahun ke-25 Mapala Mapalaska dengan tema "Dua Puluh Lima Tahun Berguru pada Alam".
"Saat ini kami mulai menggabungkan antara budaya dan kegiatan lingkungan. Masyarakat sebenarnya telah memiliki kearifan-kearifan lokal untuk menjaga kelestarian alam. Berbagai kearifan lokal itulah yang terus kami gali dan diterapkan dalam kehidupan saat ini. Paling tidak kearifan lokal itu bisa memacu daya kritis masyarakat terhadap permasalahan lingkungan di sekitarnya. Misalnya, pembangunan mal-mal di Yogyakarta," ujar Riyanto, panitia JEW 2006, Kamis (2/3).
Mamay
"Pola pendidikan pecinta alam yang selama ini berkiblat kepada gaya militer, harus diubah, setelah tewasnya salah seorang mahasiswa pecinta alam IAIN Sunan Gunung Djati dalam acara Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatdas)." ungkapnya kepada Antara, di Bandung, Senin.
Mamay mengakui bahwa konsep pendidikan kalangan pecinta alam di Jabar, khususnya kota Bandung, tidak terlepas dari konsep pendidikan militer yang cukup keras dalam menggembleng calon anggotanya.
Menurut Mamay, pola pendidikan di militer sendiri tujuannya tidak terlepas untuk `membunuh orang` dalam pertempuran. Sedangkan kalangan pecinta alam tujuannya untuk mendidik agar kita cinta kepada alam dengan mengetahui teori dan praktik yang dijadikan sebagai bekalnya.
"Meski demikian, pola pendidikan pecinta alam tidak menjadi masalah jika meniru gaya militer, namun yang patut ditiru adalah penerapan kedisiplinannya," tegasnya sembari menyebutkan konsep Diklatdas memang terhitung sulit diterima `akal sehat` khususnya masyarakat awam yang belum pernah mengikutinya.
Dikatakannya, konsep pola pendidikan yang akan diubah itu diserahkan kepada masing-masing organisasi pecinta alam tersebut, yang pada nantinya akan menemui pola pendidikan yang benar-benar ideal.
Ia juga menambahkan, konsep kekerasan seperti menempeleng atau menggampar calon anggota atausiswa di pendidikan dan pelatihan dasar PA tersebut, memang tidak bisa dihindari, guna menumbuhkan jiwa esprit de corps atau kebersamaan sesama anggota.
"Saya sendiri sepakat jika siswa/calon anggota yang terpaksa ditampar, namun hal itu dilakukan jika benar-benar siswa tersebut melakukan kesalahan yang cukup fatal hingga membahayakan dirinya atau rekan-rekannya yang lain," paparnya.
Pada pendidikan dan pelatihan dasar sebenarnya sudah ada instruktur yang menguasai materi navigasi darat untuk gunung hutan, caving (penelusuran gua) dan rock climbing (panjat tebing).
Ditambahkannya, konsep lainnya yang perlu diberikan kepada siswa dalam pendidikan dan pelatihan dasar, selain materi dasar yang diberikan instruktur itu, yakni, menciptakan kebersamaan atau menumbuhkan jiwa esprit de corps.
"Maka pola pembinaan tersebut tergantung kepada masing-masing kalangan organisasi pecinta alam itu sendiri, yang akan mengemasnya," ujarnya.
Ia juga berharap agar pola pendidikan dan pelatihan dasar benar-benar mewujudkan dalam konteks bagaimana si senior memberikan pengajaran kepada yunior yang konteksnya seperti hubungan bapak dengan anak yang tidak perlu mengedepankan kekerasan.
"Oleh karena, pola pendidikan PA yang selama ini di Jabar khususnya Kota Bandung, perlu dipikirkan lebih rasional lagi," tandasnya sambil menyebutkan terlebih lagi, selama ini Kota Bandung dikenal sebagai barometer dunia pecinta alam di Tanah Air.











